Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h04642/sites/hikmah.mfajri.net/www/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h04642/sites/hikmah.mfajri.net/www/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h04642/sites/hikmah.mfajri.net/www/wp-includes/theme.php on line 576
2008 September | Hikmah.Mfajri.Net - Part 2

Archive for September, 2008

Perbanyaklah Niat Baik Setiap Hari

September 5th, 2008 at 09:39am Under Motivasi

Sebuah hadits yang mungkin terlupa. Perbanyaklah niat baik setiap hari…:)

Dari Abul Abbas, yaitu Abdullah bin Abbas bin Abdul Muththalib, radhiallahu’anhuma dari Rasulullah s.a.w. dalam suatu uraian yang diceriterakan dari Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala - Hadis semacam ini disebut Hadis Qudsi - bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mencatat semua kebaikan dan keburukan, kemudian menerangkan yang sedemikian itu - yakni mana-mana yang termasuk hasanah dan mana-mana yang termasuk sayyiah. Maka barangsiapa yang berkehendak mengerjakan kebaikan, kemudian tidak jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah yang Maha Suci dan Tinggi sebagai suatu kebaikan yang sempurna di sisiNya, dan barangsiapa berkehendak mengerjakan kebaikan itu kemudian jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah sebagai sepuluh kebaikan di sisiNya, sampai menjadi tujuh ratus kali lipat, bahkan dapat sampai menjadi berganda-ganda yang amat banyak sekali.


Selanjutnya barangsiapa yang berkehendak mengerjakan keburukan kemudian tidak jadi melakukannya maka dicatatlah oleh Allah Ta’ala sebagai suatu kebaikan yang sempurna di sisiNya dan barangsiapa yang berkehendak mengerjakan keburukan itu kemudian jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah Ta’ala sebagai satu keburukan saja di sisiNya.” (Muttafaq ‘alaih)

Keterangan:
Hadis di atas menunjukkan besarnya kerahmatan Allah Ta’ala kepada kita semua sebagai ummatnya Nabi Muhammad s.a.w. Renungkanlah wahai saudaraku. Semoga kami dan anda diberi taufik (pertolongan) oleh Allah hingga dapat menginsafi kebesaran belas-kasihan Allah dan fikirkanlah kata-kata ini.

Ada perkataan Indahuu (bagiNya), inilah suatu tanda kesungguhan Allah dalam memperhatikannya itu. Juga ada perkataan kaamitah (sempurna), ini adalah untuk mengokohkan artinya dan sangat perhatian padanya. Dan Allah berfirman di dalam kejahatan yang disengaja (di-maksud) akan dilakukan, tetapi tidak jadi dilakukan, bagi Allah ditulis menjadi satu kebaikan yang sempurna dikokohkan dengan kata-kata “sempurna”. Dan kalau jadi dilakukan, ditulis oleh Allah “satu kejahatan saja” dikokohkan dengan kata-kata “satu saja” untuk menunjukkan kesedikitannya, dan tidak dikokohkan dengan kata-kata “sempurna”.

Maka bagi Allah segenap puji dan karunia. Maha Suci Allah, tidak dapat kita menghitung pujian atasNya. Dan dengan Allah jualah adanya pertolongan.

Sumber: Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih

By admin 1 comment

Wajib berpuasa Ramadan jika melihat hilal awal Ramadan

September 1st, 2008 at 11:11am Under Ramadhan

Wajib berpuasa Ramadan jika melihat hilal awal Ramadan dan berhenti puasa jika melihat hilal awal Syawal. Jika tertutup awan, maka hitunglah 30 hari.

  • Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
    Dari Nabi saw. bahwa beliau menyebut-nyebut tentang bulan Ramadan sambil mengangkat kedua tangannya dan bersabda: Janganlah engkau memulai puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Ramadan dan janganlah berhenti puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Syawal. Apabila tertutup awan, maka hitunglah (30 hari). (Shahih Muslim No.1795)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari. (Shahih Muslim No.1808)

Tulisan: Iip Syaiful Rahman

By admin Add comment

Logika Sebab Akibat

September 1st, 2008 at 09:37am Under Motivasi

Kepolosan seorang anak terkadang justru membuat pikiran orang dewasa semakin ruwet, seperti pertanyaan “bu gimana sich caranya buat dede baru, yara mo buat juga nih” kata anak saya kepada ibu nya beberapa waktu yang lalu. Hal serupa juga terjadi di salah satu TPA ( Taman Pendidikan Al Qur’an) yang salah satu gurunya teman adik saya. Dia bercerita mengenai pertanyaan salah satu muridnya tentang sifat Allah yang maha pengampun. ” Bu , apakah kalo kita salah trus Allah akan maafin kita ?” kata seorang anak, sambil tersenyum Ibu guru itupun menjawab ” tenatu saja nak karena Allah Subhanahu wa ta’ala adalah maha pengampun sebesar apapun dosa kita”

“Bu iblis menggoda nabi Adam ya bu, jadinya nabi adam dikeluarin deh dari syurga”, “betul nak tapi nabi Adam segera minta ampun kepada Allah dan Allah pun mengampuni segala kesalahan nabi Adam” kata ibu guru tersebut, berharap para anak didiknya terbiasa meminta maaf ” trus bu, apakah kalo Iblis meminta maaf Allah juga akan memaafkannya ?” Ibu guru terdiam sejenak karena jawaban “ya” atau “tidak” akan membutuhkan penjelasan yang sangat panjang dan memerlukan kehati-hatian dan bisa jadi bagi sebagian orang hal ini sesuatu yang membingungkan jika tidak mau dikatakan tidak tahu.

Bagi manusia apapun bisa di ukur dengan logika pada kadar yang setara nilainya, seperti binatang di bandingkan dengan binatang lain atau manusia dengan manusia lain dan tidak adil jika kita membandingkan manusia dengan binatang karena sebanyak apapun persamaannya, perbedaannya jauh lebih banyak lagi. Kita juga tidak bisa membandingkan robot buatan manusia dengan si pembuatnya dan hal ini juga berlaku pada sang Pencipta dan mahlukNya.

Ketika Nabi Ibrahim di perintahkan untuk menyembelih anaknya yang masih belia yang bernama Ismail , maka tidak ada terlontar kata “mengapa” karena apapun jawabannya kadar pemikiran kita tidak bisa dibandingkan dengan Sang Pencipta akal tersebut. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS 37:102) setelah itu kita pun mengetahui hasilnya.

Selama ini pikiran kita jebak dalam sistem kausalitas (sebab akibat), apakah sama antara kita melempar batu dan akibatnya batu menjadi terlepar jauh dengan kita memukul orang dan akibatnya orang pasti akan memukul kita , belum tentu walau secara sistem tampak sama karena dua orang yang mempunyai sifat berkehendak belum tentu mempunyai muatan emosi yang sama. Namun demikian manusia tetap di anjurkan berbuat kebaikan karena kebaikan itu akan kembali kepada manusia itu sendiri baik dari yang di beri mapun dari tempat lain yang di kehendaki allah. “Inna Akhsantum akhsantum li anfusikum” (QS 17:7)
Ditulis oleh: David Sofyan

By admin 2 comments

Next Posts


Recent Blog Posts

Categories

Posts by Month

Blogroll