Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h04642/sites/hikmah.mfajri.net/www/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h04642/sites/hikmah.mfajri.net/www/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h04642/sites/hikmah.mfajri.net/www/wp-includes/theme.php on line 576
2009 April | Hikmah.Mfajri.Net

Archive for April, 2009

Rashida Tlaib: Saya akan Bawa Sajadah ke Kantor

April 9th, 2009 at 06:59pm Under Motivasi

“Allah telah memilih saya untuk pekerjaan ini, yang tidak saya ketahui sebelumnya,” itulah komentar Rashida Tlaib, 32, saat terpilih sebagai anggota legislatif di negara bagian Michigan, AS.

Ia kini menjadi muslimah pertama yang menjadi anggota legislatif di negara bagian itu. Perempuan keturunan Palestina ini dengan mudah mengalahkan saingannya dari Partai Republik dengan perbedaan perolehan suara cukup tajam, 9-1 untuk Rashida, dalam pemilihan anggota legislatif Michigan yang bertepatan dengan pemilu presiden tanggal 4 November kemarin.

Rashida banyak mendapat dukungan suara dari kalangan kulit hitam dan Hispanik yang memang banyak tinggal di daerah pemilihannya, Distrik Detroit. Menurutnya, mereka yang memberikan dukungan suara padanya tertarik dengan komitmennya pada layanan-layanan sosial dan bukan karena latar belakang agama atau etnisnya.

“Konstituen saya dari kalangan Arab Muslim cuma ada 2 persen. Kebanyakan pemilih berasal dari kalangan warga Latin Amerika yang jumlahnya mencapai 40 persen dan warga Afrika Amerika yang jumlahnya sekitar 25 persen,” jelas Rashida.

“Tapi 90 persen memilih saya, yang memberikan sinyal yang kuat bagi optimisme Muslim Amerika bahwa, jika seorang Muslim atau seorang perempuan ingin mencapai sesuatu, dia harus bekerja keras dan jujur,” tukas perempuan yang berprofesi sebagai pengacara dan aktivis kemasyarakat ini.

“Orangtua saya mengajarkan pentingnya kerja keras, kejujuran dan komitmen. Nilai-nilai itulah yang sekarang membuat saya terpilih dan mendapatkan posisi yang prestisius di Dewan Legislatif Michigan, dimana saya harus mewakili komunitas yang beragam mulai dari warga Latin, Afrika Amerika dan Arab,” kata Rashida bangga.

Perempuan yang lahir di Michigan ini adalah anak tertua dari 13 bersaudara pasangan Palestina kelahiran kota Ramallah, Tepi Barat yang berimigrasi ke AS di awal tahun 1970-an. Rashida mengaku tidak bermimpi suatu saat akan terjun ke dunia politik. Ia ikut mencalonkan diri dalam pemilihan anggota Dewan atas dorongan Steve Tobocman, anggota dewan dari Partai Demokrat yang juga atasannya, dimana ia bekerja sebagai salah seorang staff di kantor Tobocman.

Meski demikian, Rashida mengakui banyak propaganda negatif yang dilakukan media lokal, yang mengatakan bahwa ia seorang ekstrimis Muslim dan akan membawa dampak negatif jika terpilih. Belum lagi tudingan bahwa ia hanyak akan bekerja untuk membela hak-hak komunitas Muslim.

“Tapi saya tidak peduli dan tidak pernah menyerang tujuh orang saingan saya. Saya terus bekerja keras, berkampanye dari rumah ke rumah dan saya pikir, kampanye saya yang agresif itu, ke sekitar 8.000 rumah, yang membuat saya berhasil,” ujar Rashida yang berlatar belakang pendidikan sarjana ilmu politik dan hukum ini.

Rashida dan suaminya, hidup bahagia dengan anak lelaki mereka bernama Fayez. Ia juga masih membantu pendidikan adik-adiknya. Sayangnya, sebagai seorang Muslimah, Rashida belum mengenakan jilbab. Tapi ia mengaku tetap menjalankan ajaran Islam, salat lima waktu.
“Meski saya tidak mengenakan jilbab, saya menjalankan salat lima waktu setiap hari dan saya akan membawa sajadah saya ke kantor di Lansing,” kata Rashida.

“Saya yakin, mengenakan jilbab atau menjalankan ajaran Islam tidak menjadi halangan di sini untuk mencapai tujuan kita, yang penting adalah komitmen dan usaha yang tekun.”

“Seperti kalangan imigran Amerika lainnya, keluarga saya juga punya ‘impian Amerika’ dan sekaran impian itu terwujud. Saya sendiri merasa cukup beruntung, bisa melayani masyarakat dimana saya dibesarkan dan sudah menjadikan saya sebagai perwakilan perempuan seperti saya sekarang,” sambung Rashida.

By admin 1 comment

Ditilang Polisi , dan Polisi itu temenku

April 5th, 2009 at 06:54pm Under Motivasi

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit!!!!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jono agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. “Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”

“Hai, Jon.” Tanpa senyum. “Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”

“Oh ya?”

Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

“Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”  ”Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”  Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan. “Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

“Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)”.

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan… ….

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive Safely Guys..

By admin 8 comments


Recent Blog Posts

Categories

Posts by Month

Blogroll