Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h04642/sites/hikmah.mfajri.net/www/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h04642/sites/hikmah.mfajri.net/www/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h04642/sites/hikmah.mfajri.net/www/wp-includes/theme.php on line 576
Lentera Jiwa (Kickandy.com) | Hikmah.Mfajri.Net

Lentera Jiwa (Kickandy.com)

Posted by admin on September 22nd, 2008 at 02:31pm

Berikut merupakan artikel yang ditulis oleh Andy F. Noya di kickandy.com tentang pengunduran dirinya sebagai pimred Metro TV. Artikel ini sengaja saya kutip karena isinya cukup menggugah dan sebagai motivator yang patut direnungi..

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ‘pecah kongsi’ dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan ‘power’ yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. ‘’Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.’’

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya ‘dipindahkan’ oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari ‘keju’ itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti ‘lentera jiwa’ saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul ‘Lentera Jiwa’ yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.
Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa ‘lentera jiwanya’ ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang — dan membuat mereka tidak bahagia — adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. ‘’Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini,’’ ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.
Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. ‘’Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya,’’ ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. ‘’Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya,’’ katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Under Motivasi

13 Comments for Lentera Jiwa (Kickandy.com)

  • 1. madara  |  March 14th, 2009 at 2:21 am

    sangat menyentuh jiwa saya, dan saya harap ada orang yang mau mengerti dan saling berbagi isi hati dari yang bersangutan, agar kita bisa menikimati pilihan hidup kita sesuai dengan keinginan jiwa.

  • 2. J_d  |  April 7th, 2009 at 5:33 pm

    amazing,,,smuanya benar…alhamdulillah saat ini saya termasuk orang2 yang mnemukan lentera jiwa,,saya bahagia,apalagi orang2 sekitar selalu mandukung…salut buat oom andy…

  • 3. nume  |  April 15th, 2009 at 8:43 pm

    artikelnya sangat menyentuh….karena saya sedang mengalami situasi tersebut namun saya tidak sekuat dan sepintar oom andy,saya hanyalha lulusan sma yang terjebak dalam situasiyang tidak menyenangkan pekerjaan saya tapi saya takut dan tak punya kekuatan untuk memulai suatu hal yang baru.ada yang mau bantu saya

  • 4. firdaus  |  May 22nd, 2009 at 11:53 am

    saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan Bung andy, dan memang kebahagiaan akan kita dapat kalau kita selalu mencintai pekerjaan kita serta selalu bersyukur terhadap apa yang telah dilimpahkan ALLAH SWT baik itu sesuatu yang menyenangkan ataupun yang diluar harapan kita, karena pada dasarnya manusia hanyalah wajib berusaha dan berdo’a ketentuan sepenuhnya adalah hak ALLHA SWT, salut Bung Andy!

  • 5. firdaus  |  May 22nd, 2009 at 11:54 am

    saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan Bung andy, dan memang kebahagiaan akan kita dapat kalau kita selalu mencintai pekerjaan kita serta selalu bersyukur terhadap apa yang telah dilimpahkan ALLAH SWT baik itu sesuatu yang menyenangkan ataupun yang diluar harapan kita, karena pada dasarnya manusia hanyalah wajib berusaha dan berdo’a ketentuan sepenuhnya adalah hak ALLAH SWT, salut Bung Andy!

  • 6. Ashari  |  December 19th, 2009 at 12:52 am

    lentera jiwa adalah semangat agar kita dapat mencintai apa yang Allah SWT telah beri karena nikmat yang Dia berikan pada kita kita tak dapat terhitung banyaknya

  • 7. joko iswantara  |  December 19th, 2009 at 10:24 am

    salut sama bung andy, ditengah jabatan dan kekuasaan diperebutan bahkan ada yang harus mengorbankan banyak orang lain bung andy lebih memilih meninggalkan. semoga pejabat dan pengambil keputusan di negara kita juga dapat membaca ini dan memberi pencerahan bagi mereka.

  • 8. ZULKARNAINI  |  October 2nd, 2010 at 12:21 am

    Kalau boleh saya memberi masukan, kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang mau bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan yang Maha Esa. Sedangkan orang yang betul-betul memperoleh kebahagiaan adalah HANYA orang-orang yang disetiap pekerjaan dan perbuatan yang ia lakukan adalah untuk mengeksiskan dirinya sebagaI MAKHLUK ALLAH SWT. Dengan memperbanyak membaca dan memahami penafsiran dari ayat-ayat suci al-qur’an serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, sungguh kita tidak menyadari bahwa ajal kita besok hari kan berakhir. Bila memang ISLAM sebagai way of life, maka dunia ini neraka bagi MUSLIM, dan syurga bagi mereka yang tidak memiliki agama…. so…reback to surah el-fatihah you will fund the good interpretation

  • 9. agus syarifuddin  |  January 14th, 2011 at 10:38 pm

    sangat setuja.hal ini yang saya alami saat ini.saya berani keluar dari pekerjaan yang memberikan income yang paling besar selama saya bekerja selama ini tapi pekerjaan itu tdk membuat saya bahagia.Saat ini saya enjoy sekali melakukan pekerjaan baru saya menjadi Freelance produk kopi dan susu. Walau saat ini msh dipandang sebelah mata oleh ortu dan mertua saya tapi saya punya mimpi dan yakin dapat mewujudkan impian itu yakni punya toko barang-barang consumer goods yang cukup besar yang dapat menghasilkan rupiah walaupun saya tdk berada di toko setiap hari.Amin

  • 10. ali gusni setiawan  |  April 15th, 2011 at 7:49 pm

    i love it…!

  • 11. efrinanda  |  July 2nd, 2011 at 12:45 am

    Sangat menyukai ceritanya Oom Andy..
    Salut karena udah membuat kputusan yang sulit disaat berada di puncak. Saat seseorang mengalami dilema,keputusan yang diambil tidaklah mudah. Pada satu sisi membuat kita pribadi bahagia namun d sisi lain orang terdekat akan mengalami efek negatifnya.. Namun, itulah hidup. Selalu dihadapkan dengan pilihan berani berubah atau bertahan. Dulu saya menghadapi dilema ini saat mau masuk perguruan tinggi dan saya memilih BERTAHAN berbeda dengan Oom Andy.
    Saat SMA saya mantap ingin jadi apoteker, tapi seiring waktu cita2 berubah haluan untuk menjadi seorang dokter. Bapak saya menyarankan saya untuk jadi guru dan mama ngotot saya untuk daftar Diploma III Kebidanan karena sebelumnya gagal mendaftarkan kakak saya. Saya pun mencoba ketiganya.
    Akhirnya saat SPMB saya gagal masuk fakultas kedokteran, saya lulus FKIP Bahasa Inggris(mapel favorit saya) dan juga lulus di D III Bidan.
    Dikarenakan jiwa saya lebih memilih kesehatan, saya memilih Bidan tapi dengan perasaan berat karena bukan keinginan saya yang sebenarnya. Semester awal saya jalani dengan penuh beban dan beranggapan ini adalah paksaan orang tua. Sampai-sampai saat semester ketiga, saya sempat berkata kepada mama ingin coba SPMB masuk fak. Kedokteran. Orang tua menolak. Seiring waktu, saya mulai menyukai profesi Bidan. In berawal dari saat pertama kali menolong persalinan. Seakan saat itu pintu hati saya diketuk oleh tangisan pertama anak manusia yang baru lahir ke dunia di atas kedua tangan saya. Perasaan itu sangat luar biasa.. Setelah kejadian itu, saya lupa akan dilema sebelumX. Dan saya mulai menemukan kebahagian d profesi ini..
    Pesan saya, saat anda mengalami dilema seperti saya. Tak ad salahnya mencoba bertahan untuk beberapa waktu karena sesungguhnya kemungkinan pada saat itu anda belum menemukan jati diri anda.

  • 12. Budi Prabowo  |  September 25th, 2011 at 6:06 pm

    hidup ini singkat buatlah hidup ini dgn enjoy

  • 13. seo terbaik  |  December 16th, 2014 at 3:29 pm

    You should take part in a contest for one of the greatest websites on the internet.
    I’m going to highly recommend this blog!

Leave a Comment for Lentera Jiwa (Kickandy.com)

Required

Required, hidden

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Blog Posts

Categories

Posts by Month

Blogroll